Kalau dipikir-pikir, memangnya kita punya apa? Yang benar-benar punya kita. TV yang kita miliki memang punya kita, kita bisa menggantinya sesuka kita, kita bisa mengubah-ubah bentuknya seperti yang kita inginkan sesuai dengan kemampuan keuangan yang kita miliki. Kita bisa menghidupkan dan mematikan. Untuk mendapatkan dan meng-upgradenya pun. Tinggal berusahalah!
Lalu, bagaimana misalnya dengan tubuh ini? Yang selalu bersama kita semenjak lahir hingga sekarang ini? Mmm… waktu lahir, sudah ada di diri kita, kita sebagai pemilik taunya langsung ada, dan gratis. Kita bisa merawatnya, mungkin juga bisa 'menggantinya'. Tak satu pun orang lain bisa meng-klaim bahwa tubuh kita ini milik orang lain.
Namun kita tidak bisa berbuat banyak seperti halnya terhadap material lain seperti TV tadi, seperti upgrade hidung, pertumbuhan tinggi badan, denyutan jantung, dan bahkan berhenti diluar kemampuan kita (yang mengklaim benar-benar bukan orang lain memilikinya!).
Lalu yang kita punya apa? Jelas-jelas 'sesuatu itu' selalu ada pada kita tapi ga bisa apa-apa! Punya tapi tak memiliki.
___________
jack Febrian -- Dosen dan Praktisi Teknologi Informasi di Bandung. Telah menulis beberapa buku, diantaranya Menggunakan Internet, Kamus Komputer dan Teknologi Informasi, Menjelajah Dunia dengan Google, Tentang Pendidikan Tinggi di Indonesia, dll.
Senin, 14 Desember 2009
Senin, 07 Desember 2009
Banyak Jalan Menuju Sukses Berbisnis
Januari 14, 2008 · & Komentar
Januari
anuari 14, 2008 · & Komentar
Banyak Jalan Menuju Sukses Berbisnis
Sebagai jurnalis di Majalah SWA yang hampir tiap minggu bertemu entrepreneur sukses dari skala UKM hingga konglomerat, saya sering ditanya sobat2 dan kawan yang baru merintis bisnis sendiri. “Dari pertemuan dan perkenalan dengan mereka, apa sih sebenarnya rahasia sukses bisnis mereka? Kenapa sih kok mereka itu bisa sukses dan bisnis mereka bisa membesar hingga skala korporasi?”.
Terus terang, tidak mudah menjawab pertanyaan seperti ini. Jawabannya bisa puluhan halaman. Tapi kalau kalau saya boleh memberikan beberapa catatan kecil, dari yang saya dapatkan informasinya, bahwa jalan menuju sukses itu bisa berbeda-beda, sesuai pengalaman dan konteks bisnisnya masing-masing. Ada yang mengatakan kunci sukses berbisnis adalah ‘menjaga kepercayaan karena dari dipercayalah kemudian muncul trust dari para mitra kita, termasuk pembeli”. Biasanya mereka yang mengatakan seperti ini bisnisnya di bidang jasa dan bisnis banyak berurusan dengan klien-klien besar secara B2B. Dua kenalan saya yang satu kontraktor bisnis pertambangan dan satunya pengusaha kurir sama-sama mengatakan ‘kunci sukses ialah menyenangkan orang lain dan menjaga hubungan baik”. Bisa jadi karena dia banyak pelanggan korporat dan pekerjaan dia harus menservis setiap demand dari klien — dalam artian positif, bukan menyogok.
Sementara kawan yang bisnisnya garmen, fashion, dan consumer good, cenderung mengatakan, “inti sukses berbisnis ialah membangun merek, membangun nama baik di hadapan semua konsumen”. Karena itu tahapan tersulit ialah membangun merek dari produk kita agar dikenal konsumen secara luas, diakui sebagai produk yang baik dan dibeli. Pendapat ini tentu saja juga betul, sesuai konteks industri yang digeluti.
Bahkan diantara sesama pengusaha yang bisnisnya sama-sama B2B, atau sama-sama ritel ke mass consumer pun pendapatnya masih bisa berbeda-beda. Karena momentum sukses dari masing-masing orang itu juga beragam. Kalau ada diantara kawan2 yang sudah membaca buku baru terbitan Gramedia “10 PENGUSAHA YG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0” tulisan saya (Sudarmadi), mungkin bisa lihat contoh Pak Roni Lukito, pengusaha tas dari Bandung.
Pak Roni ini punya merek tas yang amat terkenal di Indonesia seperti Exsport, Eiger, Bodypac, dll. Beliau hanya lulusan STM tapi sukses dan punya ribuan karyawan. Nah, saya lihat momentum yang membuat beliau bisa berkembang itu setelah dia diterima sebagai pemasok di Matahari. Untuk bisa diterima sebagai pemasok Matahari ia ditolak 13 kali, tapi terus mencoba dan kemudian setelah 13 kali baru berhasil diterima. Dari sinilah ia mulai mendapatkan ‘ruang’ untuk membuktikan bahwa produknya memang baik dan digemari konsumen. (Catatan: Pak Roni ini pengusaha sukses yg sangat low profile yang nggak pernah diwawancara media, makanya profilnya nggak pernah kelihatan di media massa. Saya beruntung sekali bisa dipercaya beliau sehingga mau saya profilkan).
Saya lihat, meskipun beliau ini sekarang bisnisnya sudah bermacam-macam, termasuk sukses membangun proyek perumahan mewah di Bandung dan bahkan punya klub pacuan kuda dan segala fasilitas lapangannya, namun momentum yang membuat dia sukses ialah ketika ia diterima sebagai pemasok Matahari saat merintis bisnis tas itu. Karena dari situlah jalannya menjadi lebih lempang dan cepat. Saya kira tugas kawan2 yang ingin sukses membangun usaha sendiri ialah ‘menemukan momentum’ seperti itu dan kalau sudah ketemu lalu menggenjotnya’. Kalau istilahnya Hermawan Kertajaya, menemukan G-Spot-nya. Kita tidak boleh lelah mencari ‘kendaraan’ agar bisa menemukan momentum seperti itu.
Tentu saja kita juga harus selalu rendah hati untuk belajar dari banyak orang. Entah kebetulan atau tidak, ternyata sebagain besar pengusaha sukses yang saya temui, juga sangat menyukai bacaan2 baru dan buku2 yang mendorong, seperti biografi mereka2 yang telah terbukti sukses. Mereka rajin menggali inspirasi dari berbagai sumber, baik dari pelakunya langsung atau pihak lain yang tahu seperti para konsultan. Contohnya pengusaha kurir, Pak Budiyanto yang juga diprofilkan di buku ‘10 Pengusaha Sukses…” ini, ternyata beliau sudah sangat sering membaca profil pengusaha-pengusaha sukses sejak masih mahasiswa D3 UGM. Entah dari buku, majalah, koran, dll. Saya kira pilihan ’suka membaca’ seperti itu bisa dimengerti karena bagi kita sendiri mungkin belum tentu bisa ketemu pengusaha besar si A, B, dan C — kalau harus mendengar dia ceramah di sebuah sesi seminar mungkin biayanya diatas Rp 2 juta — namun kita bisa mengakses lebih murah cara2 berpikir dan kiat mereka dari hasil wawancara dengan media tertentu atau buku.
Disini, message-nya, sebenarnya orang sukses itu ialah orang mau berendah hati untuk selalu belajar, bisa dari buku2 bacaan dan media massa, bisa juga dari pembicaraan langsung dengan pengusaha yang telah lebih dulu sukses.
Dan tentu saja juga orang yang selalu berusaha terus-menerus tanpa putus asa. Ibarat batu, sekeras-kerasnya batu kalau tiap hari kena tetesan air, lama-lama akan tergerus juga dan lama-lama batu itu bisa habis. Kita semua ini adalah air yang terus menetes itu. Selama kita tidak pernah lelah untuk ‘menetes’ maka yakinlah bahwa batu-batu itu akan habis. Dan jangan lupa, dalam setiap mengeluarkan ‘tetesan’ itu seraya bersyukur dan mengingat Sang Pencipta agar semua tetesan kita diberkahi. Jangan sampai kita sukses berbisnis tapi hati kita gersang kan?…
Semoga usaha kawan2 semua sukses
Semoga usaha kawan2 semua sukses sesuai rencana dan diberkati. Amin.
Salam hormat
Sudarmadi (Darma) dikutip dari Milis Inspirasi
Januari
anuari 14, 2008 · & Komentar
Banyak Jalan Menuju Sukses Berbisnis
Sebagai jurnalis di Majalah SWA yang hampir tiap minggu bertemu entrepreneur sukses dari skala UKM hingga konglomerat, saya sering ditanya sobat2 dan kawan yang baru merintis bisnis sendiri. “Dari pertemuan dan perkenalan dengan mereka, apa sih sebenarnya rahasia sukses bisnis mereka? Kenapa sih kok mereka itu bisa sukses dan bisnis mereka bisa membesar hingga skala korporasi?”.
Terus terang, tidak mudah menjawab pertanyaan seperti ini. Jawabannya bisa puluhan halaman. Tapi kalau kalau saya boleh memberikan beberapa catatan kecil, dari yang saya dapatkan informasinya, bahwa jalan menuju sukses itu bisa berbeda-beda, sesuai pengalaman dan konteks bisnisnya masing-masing. Ada yang mengatakan kunci sukses berbisnis adalah ‘menjaga kepercayaan karena dari dipercayalah kemudian muncul trust dari para mitra kita, termasuk pembeli”. Biasanya mereka yang mengatakan seperti ini bisnisnya di bidang jasa dan bisnis banyak berurusan dengan klien-klien besar secara B2B. Dua kenalan saya yang satu kontraktor bisnis pertambangan dan satunya pengusaha kurir sama-sama mengatakan ‘kunci sukses ialah menyenangkan orang lain dan menjaga hubungan baik”. Bisa jadi karena dia banyak pelanggan korporat dan pekerjaan dia harus menservis setiap demand dari klien — dalam artian positif, bukan menyogok.
Sementara kawan yang bisnisnya garmen, fashion, dan consumer good, cenderung mengatakan, “inti sukses berbisnis ialah membangun merek, membangun nama baik di hadapan semua konsumen”. Karena itu tahapan tersulit ialah membangun merek dari produk kita agar dikenal konsumen secara luas, diakui sebagai produk yang baik dan dibeli. Pendapat ini tentu saja juga betul, sesuai konteks industri yang digeluti.
Bahkan diantara sesama pengusaha yang bisnisnya sama-sama B2B, atau sama-sama ritel ke mass consumer pun pendapatnya masih bisa berbeda-beda. Karena momentum sukses dari masing-masing orang itu juga beragam. Kalau ada diantara kawan2 yang sudah membaca buku baru terbitan Gramedia “10 PENGUSAHA YG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0” tulisan saya (Sudarmadi), mungkin bisa lihat contoh Pak Roni Lukito, pengusaha tas dari Bandung.
Pak Roni ini punya merek tas yang amat terkenal di Indonesia seperti Exsport, Eiger, Bodypac, dll. Beliau hanya lulusan STM tapi sukses dan punya ribuan karyawan. Nah, saya lihat momentum yang membuat beliau bisa berkembang itu setelah dia diterima sebagai pemasok di Matahari. Untuk bisa diterima sebagai pemasok Matahari ia ditolak 13 kali, tapi terus mencoba dan kemudian setelah 13 kali baru berhasil diterima. Dari sinilah ia mulai mendapatkan ‘ruang’ untuk membuktikan bahwa produknya memang baik dan digemari konsumen. (Catatan: Pak Roni ini pengusaha sukses yg sangat low profile yang nggak pernah diwawancara media, makanya profilnya nggak pernah kelihatan di media massa. Saya beruntung sekali bisa dipercaya beliau sehingga mau saya profilkan).
Saya lihat, meskipun beliau ini sekarang bisnisnya sudah bermacam-macam, termasuk sukses membangun proyek perumahan mewah di Bandung dan bahkan punya klub pacuan kuda dan segala fasilitas lapangannya, namun momentum yang membuat dia sukses ialah ketika ia diterima sebagai pemasok Matahari saat merintis bisnis tas itu. Karena dari situlah jalannya menjadi lebih lempang dan cepat. Saya kira tugas kawan2 yang ingin sukses membangun usaha sendiri ialah ‘menemukan momentum’ seperti itu dan kalau sudah ketemu lalu menggenjotnya’. Kalau istilahnya Hermawan Kertajaya, menemukan G-Spot-nya. Kita tidak boleh lelah mencari ‘kendaraan’ agar bisa menemukan momentum seperti itu.
Tentu saja kita juga harus selalu rendah hati untuk belajar dari banyak orang. Entah kebetulan atau tidak, ternyata sebagain besar pengusaha sukses yang saya temui, juga sangat menyukai bacaan2 baru dan buku2 yang mendorong, seperti biografi mereka2 yang telah terbukti sukses. Mereka rajin menggali inspirasi dari berbagai sumber, baik dari pelakunya langsung atau pihak lain yang tahu seperti para konsultan. Contohnya pengusaha kurir, Pak Budiyanto yang juga diprofilkan di buku ‘10 Pengusaha Sukses…” ini, ternyata beliau sudah sangat sering membaca profil pengusaha-pengusaha sukses sejak masih mahasiswa D3 UGM. Entah dari buku, majalah, koran, dll. Saya kira pilihan ’suka membaca’ seperti itu bisa dimengerti karena bagi kita sendiri mungkin belum tentu bisa ketemu pengusaha besar si A, B, dan C — kalau harus mendengar dia ceramah di sebuah sesi seminar mungkin biayanya diatas Rp 2 juta — namun kita bisa mengakses lebih murah cara2 berpikir dan kiat mereka dari hasil wawancara dengan media tertentu atau buku.
Disini, message-nya, sebenarnya orang sukses itu ialah orang mau berendah hati untuk selalu belajar, bisa dari buku2 bacaan dan media massa, bisa juga dari pembicaraan langsung dengan pengusaha yang telah lebih dulu sukses.
Dan tentu saja juga orang yang selalu berusaha terus-menerus tanpa putus asa. Ibarat batu, sekeras-kerasnya batu kalau tiap hari kena tetesan air, lama-lama akan tergerus juga dan lama-lama batu itu bisa habis. Kita semua ini adalah air yang terus menetes itu. Selama kita tidak pernah lelah untuk ‘menetes’ maka yakinlah bahwa batu-batu itu akan habis. Dan jangan lupa, dalam setiap mengeluarkan ‘tetesan’ itu seraya bersyukur dan mengingat Sang Pencipta agar semua tetesan kita diberkahi. Jangan sampai kita sukses berbisnis tapi hati kita gersang kan?…
Semoga usaha kawan2 semua sukses
Semoga usaha kawan2 semua sukses sesuai rencana dan diberkati. Amin.
Salam hormat
Sudarmadi (Darma) dikutip dari Milis Inspirasi
Kasih Anak Sepanjang Galah
Februari 28, 2007 — introspeksidiri
Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya . Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi,mengadu ayam, dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitupun ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, "Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang ku sayangi, supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat, sebelum Aku mati". Namun semakin lama si Anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya.
Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat. Kemudian dia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di Kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si Anak tersebut dijatuhi hukuman Pancung.
Pengumuman hukuman itu disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya didepan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng hukuman berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai juga ke telinga si Ibu. Dia menangis, meratapi Anak yang sangat dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan.
"Tuhan, Ampunilah Anak Hamba. Biarlah Hamba-Mu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya." Dengan tertatih-tatih dia mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, tapi keputusan sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si Ibu kembali ke rumah. Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni.Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan ,rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang Algojo sudah siap dengan Pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng hukuman belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit lewat dari waktunya. Akhirnya didatangi petugas yang membunyikan lonceng. Dia Juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng, tapi suara dentangnya tidak ada. Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang di pegangnya mengalir darah, darah tersebut datangnya dari atas, tempat di mana Lonceng diikat.
Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah Anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk Bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng . Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si Anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke Atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng,untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
http://intropeksidiri.wordpress.com/2007/02/28/kasih-anak-sepanjang-galah/
Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya . Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi,mengadu ayam, dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitupun ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, "Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang ku sayangi, supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat, sebelum Aku mati". Namun semakin lama si Anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya.
Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat. Kemudian dia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di Kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si Anak tersebut dijatuhi hukuman Pancung.
Pengumuman hukuman itu disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya didepan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng hukuman berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai juga ke telinga si Ibu. Dia menangis, meratapi Anak yang sangat dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan.
"Tuhan, Ampunilah Anak Hamba. Biarlah Hamba-Mu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya." Dengan tertatih-tatih dia mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, tapi keputusan sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si Ibu kembali ke rumah. Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni.Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan ,rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang Algojo sudah siap dengan Pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng hukuman belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit lewat dari waktunya. Akhirnya didatangi petugas yang membunyikan lonceng. Dia Juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng, tapi suara dentangnya tidak ada. Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang di pegangnya mengalir darah, darah tersebut datangnya dari atas, tempat di mana Lonceng diikat.
Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah Anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk Bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng . Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si Anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke Atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng,untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
http://intropeksidiri.wordpress.com/2007/02/28/kasih-anak-sepanjang-galah/
owh gitu yach brarti u drmh ja dunk
Februari 28, 2007 — introspeksidiri
Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya . Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi,mengadu ayam, dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitupun ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, "Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang ku sayangi, supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat, sebelum Aku mati". Namun semakin lama si Anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya.
Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat. Kemudian dia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di Kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si Anak tersebut dijatuhi hukuman Pancung.
Pengumuman hukuman itu disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya didepan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng hukuman berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai juga ke telinga si Ibu. Dia menangis, meratapi Anak yang sangat dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan.
"Tuhan, Ampunilah Anak Hamba. Biarlah Hamba-Mu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya." Dengan tertatih-tatih dia mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, tapi keputusan sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si Ibu kembali ke rumah. Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni.Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan ,rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang Algojo sudah siap dengan Pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng hukuman belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit lewat dari waktunya. Akhirnya didatangi petugas yang membunyikan lonceng. Dia Juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng, tapi suara dentangnya tidak ada. Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang di pegangnya mengalir darah, darah tersebut datangnya dari atas, tempat di mana Lonceng diikat.
Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah Anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk Bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng . Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si Anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke Atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng,untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
http://intropeksidiri.wordpress.com/2007/02/28/kasih-anak-sepanjang-galah/
Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya . Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi,mengadu ayam, dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitupun ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, "Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang ku sayangi, supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat, sebelum Aku mati". Namun semakin lama si Anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya.
Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat. Kemudian dia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di Kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si Anak tersebut dijatuhi hukuman Pancung.
Pengumuman hukuman itu disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya didepan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng hukuman berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai juga ke telinga si Ibu. Dia menangis, meratapi Anak yang sangat dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan.
"Tuhan, Ampunilah Anak Hamba. Biarlah Hamba-Mu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya." Dengan tertatih-tatih dia mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, tapi keputusan sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si Ibu kembali ke rumah. Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni.Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan ,rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang Algojo sudah siap dengan Pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng hukuman belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit lewat dari waktunya. Akhirnya didatangi petugas yang membunyikan lonceng. Dia Juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng, tapi suara dentangnya tidak ada. Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang di pegangnya mengalir darah, darah tersebut datangnya dari atas, tempat di mana Lonceng diikat.
Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah Anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk Bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng . Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si Anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke Atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng,untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
http://intropeksidiri.wordpress.com/2007/02/28/kasih-anak-sepanjang-galah/
Selasa, 01 Desember 2009
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (Bagai Dua Sisi Mata Uang)
"Dalam pengelolaan sumber daya alam ini benang merahnya yang utama adalah mencegah timbulnya pengaruh negatif terhadap lingkungan dan mengusahakan kelestarian sumber daya alam agar bisa digunakan terus menerus untuk generasi-generasi di masa depan."Membahas tentang sumber daya alam, dapat kita bagi ke dalam dua kategori besar, yakni sumber daya alam yang bisa diperbaharui (seperti hutan, perikanan dan lain-lain). Dan sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui, seperti, minyak bumi, batubara, timah, gas alam dan hasil tambang lainnya. Dalam tulisan ini akan kita kaji sumber daya alam berupa hasil tambang dan itu tidak dapat diperbaharui. Membicarakan hasil tambang, tentu timah merupakan salah satunya.
Apalagi timah sangat identik dari sebuah ciri khas sebuah propinsi yang bernama Bangka Belitung. Siapa yang tidak kenal negeri kita jika kita katakan merupakan salah satu pulau penghasil timah di republik ini. Namun, berbicara tentang pengelolaan hasil tambang berupa timah itu sendiri, rasanya sangat malu melihat bagaimana permukaan negeri ini yang telah hancur dan membentuk kolong-kolong kecil sehingga membentuk seperti sebuah danau-danau kecil. Apalagi butuh cost yang sangat mahal untuk reklamasi lahan minimal mengurangi dampak buruk pada masa yang akan datang. Siapa yang akan disalahkan? Bukan pertanyaan itu yang mesti kita jawab.
Tapi, bagaimana hal seperti itu bisa terjadi dan apa yang mesti kita perbuat untuk memberikan solusi yang terbaik untuk kelestarian sebuah lingkungan hidup. Mungkin, jika dikaitkan dengan kemiskinan dan bagaimana masyarakat harus berpikir untuk mengenyangkan “perut” hal inilah mungkin yang menjadi sebab utama mendorong penduduk menguras alam sehingga merusak lingkungan. Jika kita amati bahwa dapat kita katakan ada hubungan antara jumlah dan macamnya sumber daya alam dengan produk bagi konsumsi masyarakat. Hubungan tersebut terlihat bahwa semakin besar pola konsumsi masyarakat maka semakin banyak pula sumber daya alam yang akan dikelola dan semakin beraneka ragam pola konsumsi masyarakat, maka semakin bermacam pula sumber daya alam yang akan dikelola.
Dari permasalahan tersebut di atas, dapat kita telaah dan mungkin harus menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing untuk lebih bersikap arif terhadap lingkungan sebelum lingkungan itu sendiri yang memberitahu kepada kita bahwa setiap bencana alam yang terjadi adalah karena ulah tangan manusia itu sendiri. Kita amati bagaimana sebuah bencana banjir yang terjadi di Aceh & Sumatera Utara yang diakibatkan penggundulan Taman Nasional, Gunung Leuser, Alikodra (7/12/2006) atau di negeri Serumpun Sebalai sendiri, beberapa minggu terakhir terjadinya banjir yang menggenangi daerah Semabung, Pangkalpinang akibat tidak ada lagi yang menjadi penyerap air di daerah sekitarnya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa kawasan hutan memiliki kemampuan dalam mengatur tata air, mencegah erosi dan banjir serta memelihara kesuburan tanah.
Berbicara sumber daya alam tentu tak lepas dari peran sebuah teknologi tepat guna untuk sebuah kelestarian lingkungan. Untuk itu, pengusaha harus dapat memilih teknologi dan cara produksi yang bisa memperkecil dampak negatif dari kepada lingkungan. Apalagi jika kita lihat kebijakan penataan ruang daerah dilakukan dengan tujuan untuk mampu menciptakan pemanfaatan ruang wilayah yang berimbang, optimal dan berwawasan lingkungan untuk kepentingan masyarakat luas. Kita tidak dapat menutup mata, bagaimana pemanfaatan teknologi berupa alat berat pada sektor pertambangan, yang secara seporadis membabat habis hutan untuk mencari hasil tambang yang terkadang hasilnya nihil atau 0%. Kepada siapa kita akan bertanggung jawab? Pikirkan apa yang dapat kita tinggalkan untuk generasi mendatang dan apa yang dapat kita katakan kepada mereka. Atau lingkungan hidup yang seperti inikah yang akan kita wariskan kepada mereka?
Akhir dari sebuah permasalahan, tentu akan tuntas dengan adanya solusi-solusi yang mungkin akan ada tindak lanjut ke depannya. Pertama, pemerintah harus lebih giat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia melalui pendidikan dalam dan luar sekolah. Kedua, perlunya inventarisasi dan Evaluasi potensi SDA dan lingkungan hidup. Ketiga, meningkatkan penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan terutama untuk pengembangan pertanian, industri dan kesehatan. Keempat, penyediaan Infra Struktur dan Spasial SDA dan Lingkungan Hidup baik di darat, laut maupun udara. Kelima, Perlunya persyaratan AMDAL terhadap usaha-usaha yang mengarah pada keseimbangan hidup. Terakhir, perlunya penyuluhan dan kerjasama kemitraan antara Lembaga Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup dan SDA serta perlunya peningkatan kemampuan Institusi dan SDM Aparatur Pengelolaan SDA dan LH. Karena pembangunan yang baik adalah yang berwawasan lingkungan walaupun terkadang dengan kemungkinan kerusakan untuk ditimbang dan dinilai manfaat untung ruginya dan diambil keputusan dengan penuh tanggung jawab kepada generasi mendatang. Karena generasi yang akan datang, tidak ikut serta dalam proses pengambilan keputusan sekarang dalam menentukan penggunaan sumber daya alam yang sebenarnya kita hanya meminjami dari mereka untuk pembangunan masa kini dengan dampak pembangunan di masa nanti!
Written By : Darus Altin
Dosen Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung
Apalagi timah sangat identik dari sebuah ciri khas sebuah propinsi yang bernama Bangka Belitung. Siapa yang tidak kenal negeri kita jika kita katakan merupakan salah satu pulau penghasil timah di republik ini. Namun, berbicara tentang pengelolaan hasil tambang berupa timah itu sendiri, rasanya sangat malu melihat bagaimana permukaan negeri ini yang telah hancur dan membentuk kolong-kolong kecil sehingga membentuk seperti sebuah danau-danau kecil. Apalagi butuh cost yang sangat mahal untuk reklamasi lahan minimal mengurangi dampak buruk pada masa yang akan datang. Siapa yang akan disalahkan? Bukan pertanyaan itu yang mesti kita jawab.
Tapi, bagaimana hal seperti itu bisa terjadi dan apa yang mesti kita perbuat untuk memberikan solusi yang terbaik untuk kelestarian sebuah lingkungan hidup. Mungkin, jika dikaitkan dengan kemiskinan dan bagaimana masyarakat harus berpikir untuk mengenyangkan “perut” hal inilah mungkin yang menjadi sebab utama mendorong penduduk menguras alam sehingga merusak lingkungan. Jika kita amati bahwa dapat kita katakan ada hubungan antara jumlah dan macamnya sumber daya alam dengan produk bagi konsumsi masyarakat. Hubungan tersebut terlihat bahwa semakin besar pola konsumsi masyarakat maka semakin banyak pula sumber daya alam yang akan dikelola dan semakin beraneka ragam pola konsumsi masyarakat, maka semakin bermacam pula sumber daya alam yang akan dikelola.
Dari permasalahan tersebut di atas, dapat kita telaah dan mungkin harus menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing untuk lebih bersikap arif terhadap lingkungan sebelum lingkungan itu sendiri yang memberitahu kepada kita bahwa setiap bencana alam yang terjadi adalah karena ulah tangan manusia itu sendiri. Kita amati bagaimana sebuah bencana banjir yang terjadi di Aceh & Sumatera Utara yang diakibatkan penggundulan Taman Nasional, Gunung Leuser, Alikodra (7/12/2006) atau di negeri Serumpun Sebalai sendiri, beberapa minggu terakhir terjadinya banjir yang menggenangi daerah Semabung, Pangkalpinang akibat tidak ada lagi yang menjadi penyerap air di daerah sekitarnya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa kawasan hutan memiliki kemampuan dalam mengatur tata air, mencegah erosi dan banjir serta memelihara kesuburan tanah.
Berbicara sumber daya alam tentu tak lepas dari peran sebuah teknologi tepat guna untuk sebuah kelestarian lingkungan. Untuk itu, pengusaha harus dapat memilih teknologi dan cara produksi yang bisa memperkecil dampak negatif dari kepada lingkungan. Apalagi jika kita lihat kebijakan penataan ruang daerah dilakukan dengan tujuan untuk mampu menciptakan pemanfaatan ruang wilayah yang berimbang, optimal dan berwawasan lingkungan untuk kepentingan masyarakat luas. Kita tidak dapat menutup mata, bagaimana pemanfaatan teknologi berupa alat berat pada sektor pertambangan, yang secara seporadis membabat habis hutan untuk mencari hasil tambang yang terkadang hasilnya nihil atau 0%. Kepada siapa kita akan bertanggung jawab? Pikirkan apa yang dapat kita tinggalkan untuk generasi mendatang dan apa yang dapat kita katakan kepada mereka. Atau lingkungan hidup yang seperti inikah yang akan kita wariskan kepada mereka?
Akhir dari sebuah permasalahan, tentu akan tuntas dengan adanya solusi-solusi yang mungkin akan ada tindak lanjut ke depannya. Pertama, pemerintah harus lebih giat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia melalui pendidikan dalam dan luar sekolah. Kedua, perlunya inventarisasi dan Evaluasi potensi SDA dan lingkungan hidup. Ketiga, meningkatkan penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan terutama untuk pengembangan pertanian, industri dan kesehatan. Keempat, penyediaan Infra Struktur dan Spasial SDA dan Lingkungan Hidup baik di darat, laut maupun udara. Kelima, Perlunya persyaratan AMDAL terhadap usaha-usaha yang mengarah pada keseimbangan hidup. Terakhir, perlunya penyuluhan dan kerjasama kemitraan antara Lembaga Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup dan SDA serta perlunya peningkatan kemampuan Institusi dan SDM Aparatur Pengelolaan SDA dan LH. Karena pembangunan yang baik adalah yang berwawasan lingkungan walaupun terkadang dengan kemungkinan kerusakan untuk ditimbang dan dinilai manfaat untung ruginya dan diambil keputusan dengan penuh tanggung jawab kepada generasi mendatang. Karena generasi yang akan datang, tidak ikut serta dalam proses pengambilan keputusan sekarang dalam menentukan penggunaan sumber daya alam yang sebenarnya kita hanya meminjami dari mereka untuk pembangunan masa kini dengan dampak pembangunan di masa nanti!
Written By : Darus Altin
Dosen Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung
PELAJARAN PENTING DARI KASUS REKSADANA 'BODONG' DI BANK CENTURY
Di pekan ini, cerita bank Century memasuki bab baru yang lebih menakutkan dari cerita horor. Ternyata selama ini, Bank Century dalam operasinya juga melakukan penjualan reksadana padahal bank ini tidak mempunyai perizinan untuk menjual Reksadana. Ketika saya cek ke situs Bapepam, Bank Century tidak terdaftar sebagai APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana).
Kisah seram ini lalu ternyata berkembang menjadi lebih menyeramkan lagi. Salah satu reksadana yang dijual oleh Bank Century merupakan reksadana 'bodong', alias reksadana yang dibuat tanpa seizin Bapepam. Reksadana yang bermasalah ini dijual dengan nama Investasi Dana Tetap Terproteksi dan dikeluarkan oleh PT. Antaboga Delta Sekuritas. Hebatnya lagi, produk ini kabarnya sudah dijual sejak tahun 2001. Kini dikabarkan bahwa bahwa Rp 1 Triliun - Rp 1,5 Triliun milik nasabah bank Century terkena masalah seputar produk ini.
Jika teman-teman pembaca berpikir bahwa cerita ini berakhir di sini, maka anda salah besar, karena masih ada sisi menarik lainnya. Per 30 September 2008, PT. Antaboga Delta Sekuritas tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar Bank Century (dengan total kepemilikan 7,44%).
Kisah seram ini lalu ternyata berkembang menjadi lebih menyeramkan lagi. Salah satu reksadana yang dijual oleh Bank Century merupakan reksadana 'bodong', alias reksadana yang dibuat tanpa seizin Bapepam. Reksadana yang bermasalah ini dijual dengan nama Investasi Dana Tetap Terproteksi dan dikeluarkan oleh PT. Antaboga Delta Sekuritas. Hebatnya lagi, produk ini kabarnya sudah dijual sejak tahun 2001. Kini dikabarkan bahwa bahwa Rp 1 Triliun - Rp 1,5 Triliun milik nasabah bank Century terkena masalah seputar produk ini.
Jika teman-teman pembaca berpikir bahwa cerita ini berakhir di sini, maka anda salah besar, karena masih ada sisi menarik lainnya. Per 30 September 2008, PT. Antaboga Delta Sekuritas tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar Bank Century (dengan total kepemilikan 7,44%).
Transparansi dalam Kasus Bank Century
Rabu, 2 Desember 2009 | Metro TV | Lampung Post | Borneo News | Yayasan Sukma | Kick Andy
Home
Advertisiment
* Home
* Polhukam
* Ekonomi & Bisnis
* Olahraga
* Sepak Bola
* Megapolitan
* Nusantara
* Internasional
* Sains & Teknologi
* Humaniora
* Opini
* Perempuan
* Hidup Sehat
* Otomotif
* Travelista
* Kuliner
* Blog
* Video
* Foto
* Cinema
* Politik Dalam Negeri
* Politik Luar Negeri
* Hukum
* Hankam
* Lainnya
* Ekonomi
* Bursa & Valas
* Finansial & Perbankan
* Bisnis & Investasi
* Lainnya
* Bulu Tangkis
* Tenis
* Basket
* F1
* Moto GP
* Tinju
* Sosok
* Lainnya
* Liga Inggris
* Liga Itali
* Liga Spanyol
* Liga Jerman
* Liga Indonesia
* Off Side
* Lainnya
* Kriminal
* Trafik
* Sosial
* Peristiwa
* Lainnya
* Berita & Peristiwa
* Lainnya
* Piranti
* Iptek
* Telekomunikasi
* Regulasi
* E Lifestyle
* Kesehatan
* Pendidikan
* Lingkungan
* Kebudayaan
* Religi
* Umum
* Bali - Nusa Tenggara
* Jabar - Banten
* Jateng - DIY
* Jatim
* Kalimantan
* Maluku - Irian Jaya
* Sulawesi
* Sumatera
Suara Anda | Layanan Umum | Kontak Media | Jadwal Hari Ini | Lowongan Kerja
Jadwal Sholat Penerbangan Kereta Api Travel + Primajasa
Polisi Pemadam Kebakaran Layanan Publik
Media Online
Iklan Sirkulasi Percetakan Production Publishing
Advertisiment
Transparansi dalam Kasus Bank Century
Selasa, 01 September 2009 00:01 WIB 59 Komentar
CETAK
KIRIM
DIGG
FACEBOOK
Buzz up! (1)
RIBUT-RIBUT soal pengucuran dana penyelamatan Bank Century terus berlanjut walaupun Menteri Keuangan Sri Mulyani berulang kali mengatakan penyelamatan terhadap bank kecil itu telah sesuai dengan peraturan.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah mengucurkan dana sebesar Rp6,7 triliun kepada Bank Century atas rekomendasi pemerintah dan Bank Indonesia. Padahal, dana yang disetujui DPR hanya sebesar Rp1,3 triliun.
Misteri itulah yang ditindaklanjuti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit investigasi terhadap bank.
Tidak hanya KPK, DPR pun meminta BPK mengaudit proses bailout tersebut. Itu karena sebelumnya DPR pada 18 Desember 2008 telah menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) sebagai payung hukum dari penyelamatan bank milik pengusaha Robert Tantular itu.
Kasus Bank Century telah memperlihatkan kepada kita bahwa ada bank kecil yang mendapatkan dukungan besar dari otoritas keuangan dan bank sentral. Pertanyaannya adalah semangat apakah yang melatarinya?
Argumentasi yang muncul dari pihak berwenang sejauh ini adalah bahwa proses penyelamatan Bank Century telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam UU LPS dan perintah dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan.
Bahwa pembiayaan yang dikeluarkan LPS untuk menyelamatkan Bank Century berasal dari kekayaan LPS, bukan uang negara.
Saat likuidasi Bank Century, terdapat 23 bank yang masuk pengawasan BI. Dan pengambilalihan itu bertujuan memberikan rasa kepercayaan kepada masyarakat untuk mencegah rush yang bila dibiarkan, akan berdampak sistemik terhadap perekonomian nasional.
Terlepas dari argumen pemerintah, BI, dan LPS, yang harus diuji kebenarannya, kasus Bank Century dalam level tertentu diperkeruh isu transparansi yang dipertanyakan banyak kalangan.
Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan tegas menyatakan ia sama sekali tidak tahu tentang proses bailout bank tersebut karena tidak pernah mendapatkan laporan dari Sri Mulyani saat kebijakan itu diambil.
Adalah aneh, seorang wakil presiden yang selama ini dikenal sebagai driving force dalam kebijakan ekonomi tidak mengetahui dan tidak dilapori. Ketidaktahuan Wapres menjadi bukti bahwa transparansi menjadi persoalan serius yang harus dituntaskan dalam isu bailout ini.
Kasus Bank Century juga tidak terlepas dari isu tidak sedap mengenai dugaan keterlibatan petinggi kepolisian. Terkait dengan persoalan di Bank Century pernah muncul sebuah polemik tentang cicak versus buaya antara kepolisian dan KPK. Ini juga menjadi tanda tanya tersendiri yang harus diungkap.
Ada pula isu bahwa penyelamatan Bank Century dilakukan semata untuk menyelamatkan dana nasabah tertentu.
Masih banyak misteri yang melingkupi kasus penyelamatan Bank Century. Karena itu, audit investigasi BPK harus dilakukan dengan tuntas.
Jangan sampai ada penumpang gelap yang bermain dengan mengatasnamakan penyelamatan ekonomi nasional.
Pertanyaan yang amat mengganggu bukanlah pada alasan mengapa Bank Century harus diselamatkan. Namun, pada mengapa untuk sebuah bank kecil dengan aset yang juga kecil harus dikucurkan dana yang begitu besar? Apalagi pemilik bank itu sedang terlibat kasus pidana penggelapan uang nasabah?
Apakah semua kejahatan pidana pemilik bank harus ditanggulangi negara? Jadi, soal mengapa sudah transparan. Yang belum terang benderang adalah soal jumlah yang sangat besar.
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/09/09/93403/70/13/Transparansi-dalam-Kasus-Bank-Century
Home
Advertisiment
* Home
* Polhukam
* Ekonomi & Bisnis
* Olahraga
* Sepak Bola
* Megapolitan
* Nusantara
* Internasional
* Sains & Teknologi
* Humaniora
* Opini
* Perempuan
* Hidup Sehat
* Otomotif
* Travelista
* Kuliner
* Blog
* Video
* Foto
* Cinema
* Politik Dalam Negeri
* Politik Luar Negeri
* Hukum
* Hankam
* Lainnya
* Ekonomi
* Bursa & Valas
* Finansial & Perbankan
* Bisnis & Investasi
* Lainnya
* Bulu Tangkis
* Tenis
* Basket
* F1
* Moto GP
* Tinju
* Sosok
* Lainnya
* Liga Inggris
* Liga Itali
* Liga Spanyol
* Liga Jerman
* Liga Indonesia
* Off Side
* Lainnya
* Kriminal
* Trafik
* Sosial
* Peristiwa
* Lainnya
* Berita & Peristiwa
* Lainnya
* Piranti
* Iptek
* Telekomunikasi
* Regulasi
* E Lifestyle
* Kesehatan
* Pendidikan
* Lingkungan
* Kebudayaan
* Religi
* Umum
* Bali - Nusa Tenggara
* Jabar - Banten
* Jateng - DIY
* Jatim
* Kalimantan
* Maluku - Irian Jaya
* Sulawesi
* Sumatera
Suara Anda | Layanan Umum | Kontak Media | Jadwal Hari Ini | Lowongan Kerja
Jadwal Sholat Penerbangan Kereta Api Travel + Primajasa
Polisi Pemadam Kebakaran Layanan Publik
Media Online
Iklan Sirkulasi Percetakan Production Publishing
Advertisiment
Transparansi dalam Kasus Bank Century
Selasa, 01 September 2009 00:01 WIB 59 Komentar
CETAK
KIRIM
DIGG
Buzz up! (1)
RIBUT-RIBUT soal pengucuran dana penyelamatan Bank Century terus berlanjut walaupun Menteri Keuangan Sri Mulyani berulang kali mengatakan penyelamatan terhadap bank kecil itu telah sesuai dengan peraturan.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah mengucurkan dana sebesar Rp6,7 triliun kepada Bank Century atas rekomendasi pemerintah dan Bank Indonesia. Padahal, dana yang disetujui DPR hanya sebesar Rp1,3 triliun.
Misteri itulah yang ditindaklanjuti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit investigasi terhadap bank.
Tidak hanya KPK, DPR pun meminta BPK mengaudit proses bailout tersebut. Itu karena sebelumnya DPR pada 18 Desember 2008 telah menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) sebagai payung hukum dari penyelamatan bank milik pengusaha Robert Tantular itu.
Kasus Bank Century telah memperlihatkan kepada kita bahwa ada bank kecil yang mendapatkan dukungan besar dari otoritas keuangan dan bank sentral. Pertanyaannya adalah semangat apakah yang melatarinya?
Argumentasi yang muncul dari pihak berwenang sejauh ini adalah bahwa proses penyelamatan Bank Century telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam UU LPS dan perintah dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan.
Bahwa pembiayaan yang dikeluarkan LPS untuk menyelamatkan Bank Century berasal dari kekayaan LPS, bukan uang negara.
Saat likuidasi Bank Century, terdapat 23 bank yang masuk pengawasan BI. Dan pengambilalihan itu bertujuan memberikan rasa kepercayaan kepada masyarakat untuk mencegah rush yang bila dibiarkan, akan berdampak sistemik terhadap perekonomian nasional.
Terlepas dari argumen pemerintah, BI, dan LPS, yang harus diuji kebenarannya, kasus Bank Century dalam level tertentu diperkeruh isu transparansi yang dipertanyakan banyak kalangan.
Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan tegas menyatakan ia sama sekali tidak tahu tentang proses bailout bank tersebut karena tidak pernah mendapatkan laporan dari Sri Mulyani saat kebijakan itu diambil.
Adalah aneh, seorang wakil presiden yang selama ini dikenal sebagai driving force dalam kebijakan ekonomi tidak mengetahui dan tidak dilapori. Ketidaktahuan Wapres menjadi bukti bahwa transparansi menjadi persoalan serius yang harus dituntaskan dalam isu bailout ini.
Kasus Bank Century juga tidak terlepas dari isu tidak sedap mengenai dugaan keterlibatan petinggi kepolisian. Terkait dengan persoalan di Bank Century pernah muncul sebuah polemik tentang cicak versus buaya antara kepolisian dan KPK. Ini juga menjadi tanda tanya tersendiri yang harus diungkap.
Ada pula isu bahwa penyelamatan Bank Century dilakukan semata untuk menyelamatkan dana nasabah tertentu.
Masih banyak misteri yang melingkupi kasus penyelamatan Bank Century. Karena itu, audit investigasi BPK harus dilakukan dengan tuntas.
Jangan sampai ada penumpang gelap yang bermain dengan mengatasnamakan penyelamatan ekonomi nasional.
Pertanyaan yang amat mengganggu bukanlah pada alasan mengapa Bank Century harus diselamatkan. Namun, pada mengapa untuk sebuah bank kecil dengan aset yang juga kecil harus dikucurkan dana yang begitu besar? Apalagi pemilik bank itu sedang terlibat kasus pidana penggelapan uang nasabah?
Apakah semua kejahatan pidana pemilik bank harus ditanggulangi negara? Jadi, soal mengapa sudah transparan. Yang belum terang benderang adalah soal jumlah yang sangat besar.
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/09/09/93403/70/13/Transparansi-dalam-Kasus-Bank-Century
Langganan:
Postingan (Atom)